Senin, 02 Januari 2017
Surau Merantau 1 .... The beginnings
Paham materialisme menjadi sebuah ideologi yang pengaruhnya masuk ke berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Masuknya paham materialisme ini telah menggeser orientasi pendidikan dari yang semula berorientasi pada pendidikan karakter seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, menjadi berorientasi pada pencapaian nilai akademik, mengikuti logika sebagai berikut :
- Sukses berarti “ punya uang banyak dan/atau punya kedudukan/kekuasaan”.
- Uang dan Kekuasaan bisa diraih apabila bekerja di tempat yang baik dan prestisius.
- Kemungkinan bekerja di tempat yang baik akan lebih besar bila kuliah di tempat “terbaik”.
- Untuk bisa kuliah di tempat terbaik, harus melewati test yang sangat akademis.
- Untuk bisa lulus test masuk tersebut, anak digegas untuk mencapai nilai setinggi – tingginya.
- Jadi di manakah tempat pembentukan karakter itu ???
Di tempat lain, ada sekolah yang menetapkan 10 muwashaffat menjadi outcome pendidikannya. Tapi sekolah itu memilih bentuk pendidikan yang berorientasi akademik, sehingga pembentukan 10 muwashaffat menjadi “tambahan” kurikulum, bukan menjadi “jiwa kurikulum”.
Di tempat lain, ada sekolah yang menekankan ketrampilan bahasa asing. Maka di mall – mall besar sering kita temui anak – anak yang berceloteh bahasa asing dengan fasih nya. Hallloooo.... kita sedang ada di mana ya ??? Kalau dibalik pembelajaran bahasa asing itu tersembunyi pesan “Orang yang pintar bahasa asing itu keren bangeet.... bahasa Indonesia itu kampungan”, Sesungguhnya kita sedang mempermalukan bangsa kita sendiri.
Jadi bagaimanakah contoh “Kesuksesan yang berasal dari pembentukan Karakter” yang pernah ada di negeri Indonesia yang indah ini ???
Lalu terbayanglah beberap wajah pejuang kemerdekaan seperti : Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Buya Hamka, Agus Salim, HM Natsir, dll. Mengapa zaman dulu banyak sekali tokoh nasional yang berasal dari Sumatera Barat ? Apa yang membuat mereka berhasil menjadi tokoh nasional ? Mungkin karena kecerdasan, hasil karya, keberanian, kejujuran serta kepemimpinannya. Beberapa di antara mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri, tapi ada beberapa yang hanya sekolah non formal dan bahkan autodidak. Jadi apa yang sama di antara mereka ??? Mereka adalah orang – orang Minang. Bagaimana sistem pendidikan di suku Minang ???
Hmm... sepertinya akan menjadi hal yang menarik.
Bersambung....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar